<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>DHARMAS FERDIANSYAH</title>
	<atom:link href="http://dharem.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dharem.wordpress.com</link>
	<description>SMK N 2 PURWOKERTO</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Mar 2008 04:26:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dharem.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>DHARMAS FERDIANSYAH</title>
		<link>http://dharem.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dharem.wordpress.com/osd.xml" title="DHARMAS FERDIANSYAH" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dharem.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Potensi Pantai Timang Gunung Kidul Yogyakarta</title>
		<link>http://dharem.wordpress.com/2008/03/11/pantai-timang-gunung-kidul-yogyakarta/</link>
		<comments>http://dharem.wordpress.com/2008/03/11/pantai-timang-gunung-kidul-yogyakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 03:53:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dharem</dc:creator>
				<category><![CDATA[potensi alam]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dharem.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; Sejumlah pulau kecil tak berpenghuni yang berada di dekat pantai selatan di wilayah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan diberdayakan sebagai objek wisata bahari. &#8220;Pulau-pulau kecil tersebut masih dalam tahap identifikasi, apakah ada ekosistem yang hidup di sana atau tidak,&#8221; kata Kepala Bappeda Kabupaten Gunungkidul, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharem.wordpress.com&#038;blog=2601707&#038;post=8&#038;subd=dharem&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align="left" width="500" src="http://images.23117.multiply.com/image/3/photos/3/500x500/6/IMG_0225_resize.JPG?et=%2BlnTufvLAEpQf4vaqqQeFQ&amp;nmid=69678062" height="375" class="photoimg" /></p>
<div align="center" style="position:relative;text-align:center;" class="bodytext"></div>
<div align="right" style="position:relative;text-align:center;" class="bodytext"></div>
<div align="left" style="position:relative;text-align:center;"></div>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<div align="justify">Sejumlah pulau kecil tak berpenghuni yang berada di dekat pantai selatan di wilayah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan diberdayakan sebagai objek wisata bahari.<br />
&#8220;Pulau-pulau kecil tersebut masih dalam tahap identifikasi, apakah ada ekosistem yang hidup di sana atau tidak,&#8221; kata Kepala Bappeda Kabupaten Gunungkidul, Eko Subiantoro.<br />
Ia mengatakan, proses identifikasi dilakukan oleh pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) baik melalui laut maupun darat.<span id="more-8"></span><br />
&#8220;Dari 22 pulau yang ditemukan, enam di antaranya terlihat menonjol karena mudah dilihat dan lokasinya dekat dengan pantai,&#8221; katanya.<br />
Sejumlah pulau yang lain, hanya berupa pulau karang yang terkadang tidak nampak karena tertutup air laut.<br />
Potensi di beberapa pulau sudah dapat diidentifikasi, kata dia, dan saat ini sedang diupayakan untuk dikelola.<br />
Pulau-pulau tersebut antara lain Pulau Timang, Kukup, dan Watulawang yang terletak tidak jauh dari bibir pantai.<br />
&#8220;Di pulau-pulau tersebut dapat ditemukan habitat biota laut yang dapat dikembangkan dan memang harus dilestarikan,&#8221; katanya.<br />
“Menurut dia, Pulau Kukup memiliki potensi flora dan fauna laut sudah mulai menarik banyak pengunjung. Sedangkan di Pulau Timang, sudah dikembangkan sarana wisata alam seperti gantole,” katanya.<br />
Ia mengatakan, keberadaan sarana pariwisata seperti itu membawa keuntungan bagi masyarakat di sekitar Pulau Timang, karena mereka dapat memanfaatkannya untuk mengembangkan perekonomian.<br />
&#8220;Potensi wisata bahari merupakan salah satu sektor andalan di Gunungkidul, sehingga pemerintah daerah terus berupaya untuk mengembangkan sektor ini,&#8221; kata dia.<br />
Selain potensi wisata bahari, pulau-pulau tersebut juga dapat dikembangkan sebagai potensi kelautan yang lain yaitu sebagai pelabuhan ikan.<br />
<b>Sumber: media-indonesia.com</b></div>
<p><a href="http://dharem.wordpress.com/photos/photo/3/6"></a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dharem.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dharem.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dharem.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dharem.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dharem.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dharem.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dharem.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dharem.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dharem.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dharem.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dharem.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dharem.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dharem.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dharem.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dharem.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dharem.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharem.wordpress.com&#038;blog=2601707&#038;post=8&#038;subd=dharem&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dharem.wordpress.com/2008/03/11/pantai-timang-gunung-kidul-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/468bc68f93eadac847024cbf4148768c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dharem</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.23117.multiply.com/image/3/photos/3/500x500/6/IMG_0225_resize.JPG?et=%2BlnTufvLAEpQf4vaqqQeFQ&#38;nmid=69678062" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>MELIRIK POTENSI GEOWISATA DI YOGYAKARTA</title>
		<link>http://dharem.wordpress.com/2008/03/11/melirik-potensi-geowisata-di-yogyakarta/</link>
		<comments>http://dharem.wordpress.com/2008/03/11/melirik-potensi-geowisata-di-yogyakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 02:46:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dharem</dc:creator>
				<category><![CDATA[potensi alam]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dharem.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[WONOSARI – Tiap musim kemarau tiba, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) jadi langganan berita. Pelbagai media selalu menyoroti persoalan kekeringan yang melanda daerah tandus ini. Di balik cerita sedih itu, daerah seluas 148,506 ha–sekitar 46,62 persen dari luas seluruh DIY, ternyata menyimpan potensi pariwisata. Salah satunya, potensi geowisata di kawasan karst. Sayang, potensi ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharem.wordpress.com&#038;blog=2601707&#038;post=7&#038;subd=dharem&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 class="date-header"><a href="http://bp1.blogger.com/_RPBnD1Evk3I/R5_jmJHEx5I/AAAAAAAAAIc/cpuKRK5CsKc/s1600-h/wisata01.jpg"><img border="0" src="http://bp1.blogger.com/_RPBnD1Evk3I/R5_jmJHEx5I/AAAAAAAAAIc/cpuKRK5CsKc/s400/wisata01.jpg" style="float:left;width:353px;cursor:pointer;height:245px;margin:0 10px 10px 0;" /></a><font size="2"><span style="font-size:85%;font-family:Arial;">WONOSARI – Tiap musim kemarau tiba, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) jadi langganan berita. Pelbagai media selalu menyoroti persoalan kekeringan yang melanda daerah tandus ini. Di balik cerita sedih itu, daerah seluas 148,506 ha–sekitar 46,62 persen dari luas seluruh DIY, ternyata menyimpan potensi pariwisata. Salah satunya, potensi geowisata di kawasan karst. Sayang, potensi ini belum digarap maksimal.</span><br />
</font></h2>
<div class="post hentry">
<div class="post-body entry-content">
<div style="text-align:justify;"><span style="font-size:85%;font-family:Arial;"></span><br />
<font size="2"><span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Bila Anda sempat jalan-jalan ke Gunung Kidul, pasti kesan yang pertama ditangkap adalah kering dan meranggas. Dengan matahari yang terasa dekat di kepala, tanah yang ada terlihat pecah-pecah. Lebih-lebih begitu melihat tumbuhan yang hidup—didominasi oleh pohon jati –-tak menampakkan lembaran daun di ujung batangnya. <span style="font-size:85%;font-family:Arial;">”Ini memang ciri khas kawasan karst. Daerahnya kering dengan dominasi bukit-bukit kapur. Memang terasa panas waktu musim kering,” kata Hendy S. – geolog yang bekerja untuk Balai Konservasi Candi Borobudur. Obrolan pengisi waktu dalam perjalanan menuju Gua Lawa, Kecamatan Ponjong, Gunung Kidul tiba-tiba berkembang menjadi ide cerita yang menarik. <span id="more-7"></span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Ia lalu menunjuk pohon-pohon jati yang kelihatan tinggal batang kering itu. ”Pohon-pohon itu bukannya mati, tetapi itu usaha mereka untuk mengurangi penguapan air. Pohon jati salah satu pohon yang cocok hidup di kawasan seperti ini.” </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Walau daerah ini terasa kering, Hendy percaya betul dengan potensi yang dimilikinya. Kawasan karst di Gunung Kidul bisa dikembangkan menjadi objek wisata. Tinggal sekarang, apakah para pihak (stakeholder) siap untuk memajukan semua itu. ”Peluangnya cukup bagus kok,” tegas pria ramah ini. </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;"></span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;"><img border="0" align="right" width="200" src="http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisata/2003/0925/wisata02.jpg" height="138" />Belum Maksimal </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Sunarto, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gunung Kidul mengatakan bahwa kawasan karst yang membentang di wilayah Gunung Kidul merupakan potensi wisata yang belum tergarap maksimal. Sumber daya karst yang termasuk Pegunungan Sewu itu punya nilai estetika dan sifat multiaspek, semua cabang pengetahuan dapat diaplikasikan di sini. </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Kalau dilihat lebih jauh, pemanfaatan gua sebagai aset geowisata adalah salah satu celah untuk mengembangkan potensi wisata Gunung Kidul. Lebih jauh, Sunarto menyebutkan bahwa daerah yang terkenal dengan gaplek itu masih menyimpan banyak objek dan daya tarik pariwisata. Jualannya bisa dari keindahan pantai, kawasan perbukitan, hutan dan pegunungan karst. </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Dari sisi wisata budaya, Gunung Kidul juga bisa dikedepankan. Sebut saja gua-gua bersejarah yang menyimpan segudang peninggalan masa lampau sampai aneka kesenian tradisional khas lokal. ”Daerah ini juga punya aset kerajinan yang juga merupakan aset bagi pengembangan pariwisata,” tandas Sunarto dalam sarasehan ”Pengembangan Peranserta Masyarakat dalam Pelestarian dan Pemanfaatan Gua-gua Bersejarah di Gunung Kidul”, beberapa waktu lalu di Gunung Kidul. </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Sunarto pun berharap Gunung Kidul mampu melakukan diversifikasi produk-produk wisata tersebut. Ini sudah lumrah, katanya, saat ini persaingan makin ketat di antara daerah-daerah tujuan wisata. Belum lagi harus bersaing secara regional, misalnya dengan negara-negara ASEAN. </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Geowisata bisa dijadikan contoh diversifikasi produk wisata. Apalagi melihat potensi alam Gunung Kidul yang amat mendukung. Dari situ pula bisa dikembangkan wisata minat khusus dan wisata petualangan yang berorientasi pada keindahan alam. </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Kata Sunarto, geowisata punya aspek positif dalam pemanfaatan dan pengelolaan kawasan karst Pegunungan Sewu. Salah satunya sebagai usaha perlindungan kawasan karst dari penurunan nilai-nilai ilmiah akibat pertambangan yang berlebihan. Di sisi lain, usaha menjual gua tadi mampu menambah pundi-pundi kas daerah dan masyarakat. </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;"></span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Gua Bersejarah </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Tak beda dengan Sunarto, Hanang Samodra – peneliti dan pemerhati Lingkungan Karst dan Gua dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung – setuju dengan pemanfaatan karst Gunung Kidul sebagai objek wisata. Terlebih lagi gua-gua yang ada di perut daerah ini mengandung nilai budaya yang tinggi. </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Sekadar mengingatkan, di kawasan karst Pegunungan Seribu terdapat sejumlah gua yang masuk kategori gua bersejarah. Gua alami ini terbukti pernah menjadi pusat kegiatan di masa lalu. Peninggalan masa lalu tadi yang selalu dicari para peneliti. Sebab dari sini bisa disibak keberadaan manusia prasejarah yang pernah tinggal di suatu wilayah, perkembangan budayanya dan proses interaksinya dengan lingkungan alam di sekitarnya. Dengan batasan tersebut, gua-gua tadi juga dikelompokkan sebagai gua arkeologi. ”Gua di kawasan karst Gunung Sewu yang termasuk gua arkeologi adalah Gua Braholo, Song Gupuh, Song Keplek dan Gua Tabuhan,” sebut Hanang.</span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Sebagai suatu objek wisata yang bersifat ilmiah populer, lanjut Hanang, tentu saja gua arkeologi itu tetap punya nilai jual. Pasarnya bisa dibagi jadi dua, wisatawan umum dan wisatawan minat khusus. ”Ini tergantung dengan materi yang ingin disampaikan,” ujar Ketua Komisi Kars Ikatan Ahli Geologi Indonesia. </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Penyampai materi adalah pemandu wisata. Sang pemandu bisa berlatar belakang ilmiah ataupun masyarakat lokal yang sudah mengikuti pelatihan secara khusus. Hanya saja yang perlu diingat, informasi teknis ilmiah harus bisa diterjemahkan dan disampaikan lewat bahasa yang sederhana – tanpa harus mengurangi makna yang sebenarnya. Kalau terlalu njlimet takutnya para wisatawan malah tak tertarik lantaran mereka tak punya bekal pengetahuan arkeologi. </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Tantangan Pemanfataan </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Walau dipandang punya potensi, Hanang mengingatkan bahwa ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Malahan tantangan sudah akan muncul sejak tahap perencanaan. Pengembangan gua menjadi suatu objek wisata yang punya pesona dan daya tarik tinggi bukanlah pekerjaan yang sederhana. ”Tanpa ada strategi yang matang hanya akan memperburuk dan menurunkan kualitas nilai strategis gua.” </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Supaya lebih gampang gambaran berikut patut direnungkan. ”Gua memiliki iklim-mikro yang khas, yang sangat berbeda dengan lingkungan di luarnya. Setiap segmen gua punya derajat keterangan, suhu dan kelembaban sendiri-sendiri,” jelas Hanang, pria kelahiran Yogyakarta, 2 Juli 1956. Iklim mikro gua tak hanya penting bagi kehidupan biota di dalamnya, tetapi juga mengawetkan lukisan yang tergambar dan tercorat-coret di dinding gua. </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Memasuki gua yang penuh lukisan tanpa pemandu dikhawatirkan akan mengganggu proses identifikasi ilmiah yang mungkin belum selesai dilakukan. Benda-benda arkeologi lainnya seperti artefak, sisa makanan berupa serpihan tulang atau tumpukan cangkang kerang, gerabah, manik-manik dan kerangka boleh jadi masih terlindungi dengan baik dari pengaruh kunjungan. Sebab benda-benda tadi berada di dalam lapisan sedimen di dasar gua. Meski begitu, sebelum nilai ilmiahnya teridentifikasi secara lengkap, kunjungan ke gua arkeologi tadi tetap akan berpengaruh pada kegiatan tersebut. </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;">Gangguan bukan cuma dari manusia, alam pun sering merusak sendiri – dalam usahanya menuju ke kesetimbangan dinamis. Pelepasan akumulasi energi pada lapisan kulit bumi secara tiba-tiba dalam bentuk gempa bumi adalah salah satu contoh proses alam menuju ke arah kesetimbangan baru. Gempa yang kuat tentu saja akan merusakkan dinding gua. </span><br />
<span style="font-size:85%;font-family:Arial;"><font size="2">”Dari kenyataan tadi, di dalam kegiatan pengembangan gua wisata sering muncul pemahaman yang bersifat skeptis, yang kemudian berkembang menjadi suatu kontroversi. Dibiarkan saja atau dikelola, gua tetap akan rusak,” sergah Hanang. Permasalahan ini akan tetap jadi persoalaan selamanya, yaitu ketika orang tak mau berusaha mencari kata kunci yang dapat mengeluarkannya dari belenggu permasalahan tersebut. </font><b><font size="2">(SH/bayu dwi mardana u/ Sinar Harapan)</font><br />
</b></span></p>
<div style="clear:both;"></div>
<p></span></span></font></div>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dharem.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dharem.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dharem.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dharem.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dharem.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dharem.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dharem.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dharem.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dharem.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dharem.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dharem.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dharem.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dharem.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dharem.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dharem.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dharem.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharem.wordpress.com&#038;blog=2601707&#038;post=7&#038;subd=dharem&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dharem.wordpress.com/2008/03/11/melirik-potensi-geowisata-di-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/468bc68f93eadac847024cbf4148768c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dharem</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bp1.blogger.com/_RPBnD1Evk3I/R5_jmJHEx5I/AAAAAAAAAIc/cpuKRK5CsKc/s400/wisata01.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisata/2003/0925/wisata02.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://dharem.wordpress.com/2008/01/24/hello-world/</link>
		<comments>http://dharem.wordpress.com/2008/01/24/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 01:11:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dharem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharem.wordpress.com&#038;blog=2601707&#038;post=1&#038;subd=dharem&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dharem.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dharem.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dharem.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dharem.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dharem.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dharem.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dharem.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dharem.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dharem.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dharem.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dharem.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dharem.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dharem.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dharem.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dharem.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dharem.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharem.wordpress.com&#038;blog=2601707&#038;post=1&#038;subd=dharem&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dharem.wordpress.com/2008/01/24/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/468bc68f93eadac847024cbf4148768c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dharem</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
